Kisah Hijrah Mahasiswa: Dari Skeptis ke Religius

 

Kisah Hijrah Mahasiswa

Dari Rasa Tak Percaya Menuju Cinta Ilahi

Di balik dinding-dinding kampus yang penuh diskusi dan hiruk-pikuk tugas kuliah, terselip sebuah kisah perubahan besar. Bukan perubahan akademis atau karier, tetapi perubahan hati — sebuah kisah hijrah seorang mahasiswa yang dulunya skeptis terhadap agama, kini menjadi sosok yang taat dan penuh cinta kepada Rabb-nya.

Kisah ini bukan satu-satunya. Banyak mahasiswa saat ini yang merasakan kehampaan meski hidup di tengah kemajuan teknologi dan kebebasan berekspresi. Tapi ada satu hal yang terus memanggil: fitrah untuk kembali pada Sang Pencipta.

Awal Mula Keraguan

Lingkungan dan Pola Pikir Modern

Raka (nama samaran), adalah mahasiswa semester awal di salah satu universitas negeri ternama. Sejak SMA, ia dikenal sebagai pemuda rasional yang mengagumi logika dan sains. Agama, baginya, hanya ritual yang dilakukan karena tuntutan sosial atau warisan orang tua.

Lingkungan pergaulan yang bebas, dosen yang berpikiran sekuler, serta media sosial yang menyajikan beragam pandangan ekstrem terhadap agama, memperkuat keraguan Raka terhadap nilai-nilai spiritual.

Saya pikir agama itu hanya mengekang, penuh aturan, dan tidak relevan dengan zaman,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan RemajaMasjid.ID.

Titik Balik yang Mengubah Segalanya

Krisis Eksistensi dan Keresahan Batin

Namun keraguan itu tak serta-merta membuat hidupnya tenang. Di balik tawa dan keberhasilan akademik, Raka sering merasakan kekosongan. Ia mulai mempertanyakan: "Untuk apa semua ini?" Tidur larut, bangun tanpa semangat, dan hari-hari yang terasa hampa menjadi alarm perubahan.

Suatu malam, saat sedang scroll media sosial, ia menemukan potongan ceramah pendek tentang tujuan hidup. Kalimat sederhana itu menampar hatinya: “Jika bukan untuk menyembah Allah, lalu untuk apa kamu diciptakan?”

Mulai Mencari dan Bertanya

Dorongan untuk mencari jawaban membuat Raka berani mendekati komunitas remaja masjid kampus. Awalnya ragu, ia hanya datang duduk di belakang saat kajian. Tapi rasa ingin tahunya tak terbendung. Ia mulai membaca buku-buku pemikiran Islam, berdiskusi dengan teman-teman rohis, hingga menyimak ceramah-ceramah keislaman di YouTube.

Saya baru sadar, Islam itu logis, intelektual, dan sangat menyentuh. Bukan sekadar ritual, tapi cara hidup,” katanya.

Proses Hijrah yang Tidak Instan

Menang Melawan Diri Sendiri

Hijrah bukan perubahan sekejap. Ada fase jatuh bangun yang dilalui. Raka mengaku, ia pernah merasa lelah, bahkan ingin kembali pada gaya hidup lamanya yang “bebas.” Tapi perlahan, hati yang mulai terbuka kepada cahaya tidak bisa lagi ditutup.

Ia mulai membiasakan diri shalat tepat waktu, meninggalkan musik yang dulu jadi pelarian, serta memfilter pertemanan yang dulu penuh kelalaian. Ia juga aktif di kegiatan dakwah kampus, bukan untuk pamer, tapi karena ia tahu: iman perlu dijaga dalam jamaah.

Dukungan yang Membesarkan Hati

Perjalanan hijrah Raka tak lepas dari peran teman-teman salih yang memeluknya dengan kasih sayang, bukan dengan penghakiman. Ia merasakan betapa pentingnya komunitas yang sehat dan suportif bagi siapa pun yang ingin berubah.

Saya tidak pernah disuruh ini itu. Mereka hanya mengajak, memberi contoh, dan yang paling penting: selalu mendoakan,” katanya dengan mata berkaca.

Pesan untuk Sesama Remaja Muslim

Raka kini menjadi mentor di komunitas dakwah kampusnya. Ia ingin menjadi “versi terbaik dari dirinya sendiri” dan membantu orang lain menemukan makna hidup sebagaimana ia pernah mencarinya.

Pesan Raka untuk remaja masjid lainnya:

Jangan takut hijrah. Kita semua berangkat dari kekurangan. Allah menilai usaha, bukan hasil. Jangan tunggu sempurna untuk berubah, karena perubahan itu adalah jalan menuju kesempurnaan.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Facebook Like