Awal Langkah yang Menggetarkan Hati
Bagi sebagian besar remaja, masa muda sering kali diwarnai pencarian jati diri, eksperimen gaya hidup, hingga tantangan menjaga prinsip di tengah pergaulan. Begitu pula dengan kisah seorang pemuda yang memilih berhijrah—meninggalkan kebiasaan lama demi kehidupan yang lebih sesuai dengan ajaran Islam.
Namanya Andi (bukan nama sebenarnya), seorang remaja masjid yang kini aktif di komunitas dakwah remaja. Dulu, Andi hanyalah seorang pelajar biasa. Tak jauh berbeda dengan teman-teman seusianya, ia terbiasa nongkrong hingga larut malam, menonton konten-konten yang kurang bermanfaat, dan menjadikan salat sebagai rutinitas sambil lalu.
Namun, titik balik itu datang ketika ia mengikuti sebuah kajian rutin di masjid dekat rumahnya. “Awalnya cuma ikut-ikutan teman. Tapi lama-lama, saya merasa ada sesuatu yang kosong dalam hidup,” ujarnya. Kajian itu membahas tentang makna hidup dan kematian. Topik yang jarang dibicarakan di bangku sekolah tapi justru menggugah hati Andi.
Tantangan di Awal Hijrah
Memilih untuk berhijrah bukanlah keputusan ringan. Banyak rintangan yang menghadang, bahkan dari orang-orang terdekat. Andi mengaku sempat dijauhi oleh teman-teman lamanya. “Mereka bilang saya sok alim, sok suci. Padahal saya cuma ingin jadi lebih baik,” ungkapnya dengan mata menerawang.
Tak hanya itu, godaan untuk kembali ke kebiasaan lama terus datang. Sosial media yang penuh dengan konten-konten hiburan membuatnya harus selektif dalam menggunakan waktu. “Saya mulai menyaring siapa yang saya follow. Saya batasi tontonan, saya isi waktu dengan ngaji dan ikut mentoring.”
Apa yang dilakukan Andi mencerminkan realita hijrah: tidak selalu mudah, bahkan bisa terasa sepi dan berat di awal. Tapi ia tak sendiri. Banyak remaja masjid lainnya yang juga sedang berada di fase perjuangan yang sama.
Dukungan Komunitas: Kunci Kuatkan Hijrah
Salah satu hal yang memperkuat semangat hijrah Andi adalah komunitas. Ia bergabung dengan sebuah halaqah yang rutin mengadakan kajian pekanan, diskusi remaja, hingga kegiatan sosial. Dari situlah, ia menemukan lingkungan yang mendukung dan memotivasinya untuk terus istiqamah.
“Di komunitas ini, saya merasa punya saudara. Kami saling mengingatkan, bukan saling menghakimi,” katanya.
Komunitas menjadi tempat bertumbuh, tempat bertanya, bahkan tempat menyalurkan kreativitas dalam kebaikan. Andi kini aktif mengelola media sosial dakwah remaja, menjadi bagian dari tim dokumentasi, dan sesekali diminta mengisi kultum di masjid.
Hijrah Bukan Akhir, Tapi Permulaan
Dalam proses hijrah, Andi belajar satu hal penting: hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau gaya hidup, tetapi perubahan cara pandang terhadap hidup. Ia tidak lagi menjalani hari-hari hanya untuk kesenangan sesaat, tapi menata langkah menuju akhirat.
“Kalau dulu saya bangun tidur langsung pegang HP, sekarang yang saya cari air wudu,” ucapnya sambil tersenyum.
Hijrah juga bukan perjalanan yang linier. Ada kalanya semangat naik, ada pula saat-saat futur (down). Namun, dengan niat yang lurus dan dukungan lingkungan yang positif, Andi terus melangkah meski perlahan.
Pesan untuk Remaja Masjid yang Ingin Berubah
Untuk para remaja masjid yang baru memulai hijrah atau bahkan masih ragu untuk melangkah, Andi punya pesan singkat: jangan tunggu siap untuk berubah, tapi berubah lah agar siap menghadapi hidup.
“Hijrah itu bukan buat orang yang sempurna, tapi buat orang yang mau memperbaiki diri. Jangan takut dinilai orang, karena yang nilai kita sesungguhnya adalah Allah.”
Kini, Andi merasa lebih tenang menjalani hari. Meski tantangan masih datang silih berganti, ia tahu ke mana harus kembali. Dan seperti kata pepatah: perjalanan panjang dimulai dari satu langkah kecil—dan bagi Andi, hijrah adalah langkah kecil yang penuh makna.
